Elevator, SINAR HARAPAN, Sabtu/Minggu, 12 - 13 Oktober 2013

-->
Kardan, tiga puluh tahun, pukul sebelas malam lebih sepuluh menit, terjebak dalam sebuah elevator di lantai sembilan, di sebuah apartemen tempatnya bekerja sebagai cleaning service. Apartemen itu baru saja selesai dibangun dan siap huni. Kardan bekerja di tempat itu belum genap sebulan. Dan karena elevator tersebut sedang dalam masa percobaan, maka kamera pengintai pun belum sempat dipasang di sana. Beberapa pegawai lain sudah pulang terlebih dahulu. Pun dua orang satpam baru yang berjaga di gerbang depan akan lebih memilih menghabiskan waktu untuk menonton bola atau main kartu daripada berkeliling memeriksa apartemen yang belum ditempati orang itu.
Kardan menyesalkan dirinya yang selalu menganggap bahwa handpone bukanlah barang penting yang harus selalu dibawa kemana pergi. Saat itu Kardan baru sadar, bahwa pada waktu-waktu tertentu yang tak pernah ia duga, handphone akan sangat berguna. Beberapa detik setelah elevator itu berhenti tiba-tiba, Kardan tak terlalu cemas. Ia menganggap itu sebuah kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja. Namun, setelah beberapa menit, tiba-tiba ia merasa cemas. Tersesat seorang diri, di malam buta, di sebuah tempat yang sesak—menyerupai peti mati, di tengah-tengah gedung apartemen yang lengang, tentu akan membuat siapapun menjadi panik.
Kardan sudah berusaha menggedor-gedor pintu elevator yang bungkam itu. Namun usahanya sia-sia belaka. Kardan juga sudah mencoba berteriak minta tolong, tapi di ruangan kotak dan sempit itu, suaranya malah membuat telinganya sendiri pekak.  Benar-benar tak ada harapan. Kardan yakin, istrinya di rumah juga tak akan repot-repot mencarinya, lantaran ia sendiri sudah terbiasa pulang larut malam atau bahkan tidak pulang sama sekali karena terlalu asik bermain bilyard dan begadang di warung remang-remang.
Kardan pasrah, ia akan terkurung di tempat terkutuk itu setidaknya sampai besok pagi. Dan karena jelang akhir pekan, mungkin keadaan bisa lebih buruk lagi. Kardan mencoba duduk, menenangkan diri. Ia mengatur napasnya sedemikian rupa agar bisa berpikir jernih. Mendadak Kardan berpendapat, bahwa pada detik-detik seperti itu, mungkin tak ada lagi orang yang bisa menolongnya kecuali Tuhan. Sayangnya, Kardan sudah benar-benar lupa kapan terakhir kali menyebut nama Tuhan. Kini, mulutnya terasa nyanyuk dan canggung ketika hendak menyebutkan nama itu.
Kardan terduduk lemas. Ia tak percaya bahwa kecemasannya membuatnya hampir menangis. Seperti anak kecil yang cemas karena tersesat. Kardan mencoba menguatkan diri, bahwa ia hanya ketiban sial: terjebak di dalam elevator di tengah malam. Namun, seperti apapun ia mencoba menguatkan diri ia tak pernah bisa. Sejak kecil Kardan sudah fobia dengan tempat sempit. Pernah sewaktu kecil, ia bermain petak umpet dengan beberapa teman, ia bersembunyi dalam lumbung tempat padi. Dan ia ditemukan hampir mati di sana oleh teman-temannya karena sesak napas.
***
Kardan menerawang ruang kotak dan sempit itu. Mendadak ia bertanya-tanya, seperti apakah rasanya orang mati yang dikurung dalam peti mati dan dikuburkan di dalam tanah yang hanya berukuran beberapa meter. Tentu sangat sempit dan gelap. Demi membayangkannya, Kardan bertambah cemas. Ia bisa merasakan bahwa paru-parunya seolah menciut, mengkerut, hingga membuat dadanya sedikit nyeri. Dan akhirnya, setelah sekian lama, mulut Kardan yang hitam dan bau asap rokok itu kembali menggumamkan nama Tuhan. Jujur, itu membuatnya sedikit lebih tenang, meski dadanya masih saja nyeri.
Kardan bersimpuh di sudut ruang, ia seperti tikus yang terjebak dalam jeratan. Kardan ingat, sewaktu kecil ia pernah mendengar sebuah cerita dari guru ngajinya, tentang tiga pemuda yang terjebak dalam sebuah gua dan kehilangan jalan keluar lantaran mulut gua itu tertutup oleh batu besar yang menggelincir begitu saja. Tiga pemuda itu sadar, pada saat seperti itu tak ada siapapun yang bisa menolong mereka kecuali Tuhan, hingga dengan kerendahan hati, mereka bertawassul kepada Tuhan atas kebaikkan paling tulus yang pernah mereka lakukan. Dan Tuhan pun memakbulkan tawasul mereka hingga batu besar yang menyumpal mulut gua itu bergeser perlahan-lahan atas kehendah-Nya.
Kardan tahu betul, bahwa posisinya sekarang persis dengan posisi ketiga pemuda dalam kisah itu. Haruskah Kardan bertawasul kepada Tuhan atas kebaikan yang pernah ia lakukan, supaya elevator itu terbuka? Bahkan Kardan juga tak bisa menyebutkan kebaikan seperti apakah yang sudah ia lakukan selama hidupnya. Dalam cerita itu, pemuda pertama bertawassul pada Tuhan akan baktinya yang tulus terhadap ibunya, sedangkan Kardan, terakhir kali menemui ibunya adalah dua tahun lalu, untuk meminta warisan—karena kalah judi. Kardan ingat, ia sempat bertengkar dengan ibunya karena itu. Saat itu ia berharap bahwa ibunya yang sudah mulai bangka itu lekas-lekas pergi ke alam baka menyusul bapaknya. Sampai detik di mana ia tergugu di dalam elevator seorang diri, ia belum meminta maaf pada ibunya. Bahkan lebaran kemarin, ia sengaja tak pulang kampung karena merasa jengah dengan sikap ibunya yang begitu tak acuh padanya.
Detik itu Kardan tak bisa mencegah air matanya. Ia teringat raut ibunya yang lusuh karena rasa kecewa dan malu yang tak tanggung-tanggung atas putra sulungnya yang tak tahu diri itu. Dan saat itu Kardan merasa pantas untuk terjebak dalam elevator, bahkan ia merasa pantas untuk masuk neraka.
***
Dinding dan lantai elevator yang kelewat dingin membuat Kardan semakin menggigil. Sudah jam berapa sekarang?
Kardan kembali mengingat cerita tentang tiga pemuda itu, pemuda kedua bertawasul atas kebaikannya menolak perempuan cantik yang terbaring di depan matanya, dan pasrah untuk ia zinahi. Mendadak Kardan menundukkan kepalanya lekat-lekat. Ia membayangkan sekujur tubuhnya begitu kotor, seperti dilumuri lumpur. Karna, tanpa sepengetahuan istrinya, Kardan telah puas menjamahi puluhan wanita berbagai jenis dari puluhan rumah bordil yang pernah ia singgahi. Mengenai tawasul yang kedua, Kardan tentu tak masuk dalam hitungan,  pun mengenai tawasul pemuda yang ketiga: seorang majikan yang begitu jujur dan tulus kepada khadimnya. Kardan sendiri hanya seorang cleaning service, telak sudah, ia memang tak ingat pernah melakukan kebaikan apapun. Kardan semakin tergugu, seiring tarikan napasnya yang terasa kian berat.
Apakah riwayatku akan segera berakhir di dalam ruang sempit ini? Kardan kembali berdiri. Satu kakinya keram kesemutan, hingga membuatnya berdiri tertatih-tatih. Kardan mencoba berjalan, terpincang-pincang. Untuk ke sekian kalinya ia menggedor-gedor pintu elevator yang hanya bergeming dan dingin. Ia kembali berteriak-teriak, meminta tolong. Namun lagi-lagi suaranya yang bagai srigala terluka itu malah membuat telinganya sendiri sakit dan berdengung. Ia memilih terdiam dan meringkuk di pojokkan seperti semula. Ia ingin memejamkan mata tapi lantai dan dinding tempat ia bersandar kelewat dingin, dan dadanya semakin nyeri, seperti dicacah-cacah ribuan jarum. Ia menyeringai menahan nyeri yang semakin membuncah di ulu hatinya.
Kardan memeluk lututnya erat-erat dan menyandarkan kepalanya yang lunglai di sana. Ia tak ingin lagi berpikir apa-apa.
***
Kardan tergeragap, ia terbangun oleh sebuah guncangan. Ia menengok arloji butut di tangan kanannya. Pukul empat pagi kurang seperempat. Ia merasakan ruangan kotak yang mengurung tubuhnya hampir semalaman itu bergerak turun, perlahan-lahan, sebelum akhirnya terbuka di lantai dasar. Benar-benar sunyi. Sunyi sesunyi-sunyinya. Kardan  beranjak dari ruangan kotak itu dengan langkah terhuyung. Kardan belum pernah merasakan sensasi kesunyian yang mengiris seperti itu. Di luar sana azan subuh menggema, membuat tubuh Kardan semakin menggigil. Tapi Kardan bertekad, subuh itu ia akan mulai mengambil air wudhu.***

0 komentar: