Remah Remah Mawar, Esquire Indonesia, Edisi November 2014


Semenjak ditemukan di sebuah kebun mawar dengan tubuh penuh goresan dan nyaris telanjang, Laluna mulai menunjukkan gejala-gejala kegilaan. Ketika itu, Mama memandikannya dengan air hangat dan kemudian membaluti tubuhnya dengan handuk, selanjutnya Mama menyeka bekas luka gores di sekujur tubuhnya dan mengolesinya dengan salep. Ketika Mama hendak memakaikan pakaian, tiba-tiba Laluna berkata, “Aku tak perlu pakaian, Ma. Aku mawar. Dan mawar tak perlu dibungkus, ia akan tetap indah dan harum.”
Ketika itu, Mama menghentikan gerakannya dan menatap tajam ke mata Laluna, seandainya sepasang mata Laluna itu adalah dian, maka sepasang dian itu adalah dian yang baru saja padam, kosong, seperti jasad yang ditinggalkan ruh, “Kau bilang apa barusan?”  tanya Mama kemudian.
“Aku hanya bilang kalau mawar itu harum, Mama. Mana bajuku,” Laluna menyahut busana di tangan Mama dan mengenakannya sendiri.
Malam harinya, ketika Mama mengantarkan Laluna ke kamarnya untuk istirahat, Laluna kembali mengatakan sesuatu yang aneh, “Seharusnya tak kubiarkan para iblis itu menusukku dengan duri-duri mereka, akulah yang mawar, duriku nyata, dan dengan duri-duri itu aku akan mengoyak-moyak tubuh mereka, seperti yang telah mereka lakukan padaku.”
Mama masih tak paham dengan apa yang dibicarakan Laluna, tapi Mama sedikit khawatir mendengar Laluna mengatakan itu, Mama menghela napas berat, “Tidurlah, Laluna, ini sudah malam. Mama juga akan segera tidur.”
“Siapa Laluna? Aku Mawar, Ma, bukan Laluna.”
Mendengar itu, Mama mendekati Laluna yang masih terduduk di tubir ranjang. Mama membantu Laluna membaringkan tubuhnya. Dan sebelum Laluna memejamkan mata, ia bergumam lagi, “Seperti iblis-iblis itu, kebanyakan lelaki memang lupa, bahwa selain indah, mawar juga berduri.”
Mama tak ingin menyahut atau mendebatnya, setelah membenarkan letak selimut Laluna, Mama segera beringsut ke kamarnya dengan kekhawatiran yang ia matangkan sendiri. Mama benar-benar tak tahu apa yang terjadi dengan Laluna ketika dua hari silam ia tidak pulang ke rumah.
Sabtu pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Laluna berpamitan pada Mama, bahwa sepulang sekolah ia akan langsung ke rumah sahabatnya, ketika Mama bertanya sahabat yang mana, Laluna hanya menjawab, seorang sahabat karib yang ia kenal melalui Facebook. Mama juga tak tahu banyak apa itu Facebook, Mama hanya pernah mendengarnya. Laluna memang gadis yang pendiam dan hampir tak punya teman dekat. Maka, ketika Laluna mengatakan ia punya sahabat karib, Mama tak sampai berpikir yang macam-macam. Mama hanya senang mendengar Laluna mendapatkan sahabat karib. Itu saja.
Selepas pamit itulah, malamnya Laluna menelpon. Bahwa ia akan menginap di rumah sahabatnya. Mama lega ketika Laluna mengatakan bahwa sahabatnya adalah seorang perempuan. Dan sebenarnya, Mama tak tahu bahwa ketika itu Laluna berbohong. Yang jelas sampai Minggu malam Laluna tidak pulang. Terakhir, Senin pagi, ketika Mama hendak melaporkan hilangnya Laluna ke polisi, beberapa warga—yang hendak memanen mawar di ladang mereka, menemukan Laluna tergeletak lemas di sana dengan tubuh penuh goresan dan nyaris tanpa busana. Beberapa warga mengatakan, bahwa Laluna telah diperkosa, sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja.
Hati Mama serasa dicincang-cincang mengingat itu semua, seolah Laluna bukan manusia. Laluna adalah anak Mama satu-satunya, dan ia diperlakukan seperti bangkai tikus di dalam semak. Jika Mama tahu siapa yang melakukan itu, mungkin Mama akan mematahkan leher mereka dengan tangan Mama sendiri. Beberapa orang, termasuk Mama, sudah mendesak Laluna untuk mengatakan siapa yang melakukan perbuatan bejat itu padanya, namun Laluna hanya diam. Seakan ia tak sanggup mengingat kembali peristiwa itu. Hanya saja, sesekali, Laluna suka menggumam tentang tiga iblis yang menghujani tubuhnya dengan duri-duri mereka.
“Aku akan membalas mereka, Ma, iblis-iblis itu, Bunda Pitaya telah memberiku kekuatan untuk itu, Mama tak perlu khawatir,” kata Laluna di suatu senja.
Mama sudah tahu, bahwa sesuatu yang ada di dalam kepala Laluna telah rusak dan digantikan dengan sesuatu yang lain, “Siapa Bunda Pitaya, Laluna?”
“Bunda Pitaya? Ia adalah perempuan yang kutemui di kebun mawar, ia selalu beraroma mawar, perempuan yang mengenakan gaun seperti jubah, gaun yang merumbai, gaun yang disulam dari kelopak-kelopak mawar. Jika ia berjalan, ia akan meninggalkan remah-remah mawar di setiap jejak yang ia lalui. Dialah Bunda Pitaya, Mama. Bunda Pitaya yang jelita, Bunda Pitaya yang selalu membelaku. Dan sebenarnya, Bunda Pitaya pernah menawariku untuk menjadikanku sebagai anaknya, tapi aku bilang, aku harus izin Mama dulu. Aku masih anak Mama, bukan?”
Mata Mama nyaris tak berkedip mendengar semua celotehan Laluna, anak ini benar-benar-benar mengalami hari yang berat. Untuk mengatasi kekhawatirannya, Mama mencoba membawa Laluna ke dokter jiwa dan psikiater, dan kata mereka, tak ada yang salah dengan Laluna. Ia hanya mengalami trauma, ia butuh waktu untuk beristirahat dan menjernihkan pikirannya. Itu saja.
Mama merasa lega mendengar penjelasan dokter dan psikiater itu. Hingga beberapa hari berselang, di kampung sebelah terjadi sebuah peristiwa yang mencengangkan. Tiga orang pemuda yang tengah berpesta minum-muniman keras, ditemukan tewas mengenaskan dengan mulut menganga mengeluarkan busa, selain itu di beberapa bagian tubuh mereka ditemukan goresan memanjang, seperti bekas cakaran bintang buas. Dan anehnya, di tempat kejadian perkara, di temukan remah-remah kelopak mawar yang bertebaran. Sepertinya, ada seseorang yang sengaja menaburkannya.
Mendengar peristiwa itu, mendadak Mama teringkat kata-kata Laluna tempo hari, tentang tiga iblis yang mungkin telah menggagahinya. Dan remah-reman mawar itu? Tentang Bunda Pitaya? Ah, mengapa semuanya tampak saling berkaitan. Mengapa pula tiba-tiba Mama hampir mempercayai semua yang dicelotehkan Laluna. Mama menghela napas berat sekali lagi, ia takut jika ia ikut menjadi gila karenanya.
“Aku dan Bunda Pitaya telah mengirim mereka ke neraka, Ma, iblis-iblis itu pantas mendapatkannya.”
Mama tak menggurbris, tapi sesuatu di dalam hatinya terus berkerja, terus menyala, bersikejar, bersitanya. Kian hari kondisi Laluna kian mengkhawatirkan. Ia terus meracau. Mengatakan hal-hal yang tak terduga, hal-hal yang tak terjangkau oleh akal kepala. Mama tak mungkin lagi menanggapinya, Mama tak akan mampu menanggapinya. Mama hanya cukup mendengar semua ocehannya dan kemudian menyimpulkan sesuatu untuk dirinya sendiri, sebelum mengambil sebuah keputusan untuk kebaikan Laluna.
“Ma, apakah Mama mengizinkan jika aku menjadi anak Bunda Pitaya?”
“Ma, aku tak mau mengenakan pakaian kalau tidak terbuat dari remah-remah mawar seperti milik Bunda Pitaya, aku ingin menjadi jelita seperti Bunda Pitaya.”
“Ma, Mama mencium bau mawar tidak di kamar ini? Semalam Bunda Pitaya tidur bersamaku di kamar ini.”
“Kata Bunda Pitaya di sini tidak aman, di sini banyak iblis yang suka menghujamkan duri-duri mereka ke sembarang perempuan, iblis yang tak terkendalikan, maka jika Mama mengizinkan, aku akan ikut Bunda Pitaya saja, di sana tidak ada iblis, di sana hanya ada kebun mawar yang luas dengan keharuman yang abadi.”
“Ma, bagaimana, Ma? Sekarang Bunda Pitaya sedang berdiri di sebelah kiri Mama.”
Mendapati kondisi Laluna yang kian parah, Mama memutuskan untuk menyembuhkan Laluna ke tempat yang semestinya—meski dokter dan psikiater tak menyarankan itu. Dokter dan psikiater itu memang tak tahu apa-apa. Dan kata mereka, semua cerita Laluna yang Mama ceritakan kembali kepada mereka tak lebih dari sebuah halusinasi yang sebenarnya tak ada. Bagaimana pun Mama tak bisa mencegah kekhawatirannya, maka akhirnya Mama memutuskan untuk membawa Laluna ke rumah sakit jiwa.
Pada hari pertama, Mama menemani Laluna, dan tak beranjak dari kamarnya. Mama hanya memastikan, bahwa selama tinggal di tempat itu, Laluna akan baik-baik saja. Dan lagi pula, Laluna tidak menampakan gejala-gejala yang membahayakan, seperti menyakiti orang lain, mengamuk atau merusak benda-benda yang dilihatnya. Kegilaan Laluna hanya satu: ia seperti menyaksikan sebuah dunia yang orang lain tak bisa menyaksikannya, dunia yang ada Bunda Pitayanya di sana, dan untuk mengekspresikan apa yang mungkin dilihatnya, Laluna hanya meracau, tidak lebih.
“Mama akan pulang, dan kau harus tetap di sini, kau harus sembuh,” kata Mama, sebelum ia pergi meninggalkan Laluna.
“Aku tidak sakit, Ma. Kalau mama pergi, meninggalkan Mawar sendirian di sini, lebih baik Mawar ikut Bunda Pitaya saja,” balas Laluna kemudian.
Mama tak perlu menggubris lagi kata-kata Laluna, ia memang sakit, bahkan ia masih saja menyebut dirinya Mawar. Sebenarnya, ketika Mama beranjak pergi dari tempat itu, air mata Mama tak mau berhenti, ia seperti mendapati dirinya menjadi kosong, hampa. Ia merasa telah kehilangan semua yang dimilikinya. Satu-satunya harapan yang masih ia genggam adalah Laluna bisa sembuh seperti sedia kala. Namun harapan yang secuil itu pun turut muspra.
Pada malam berikutnya, Mama mendapatkan kabar dari rumah sakit tempat Laluna dirawat, kabar yang mengatakan bahwa Laluna hilang tanpa jejak. Ya, hilang begitu saja. Bukan kabur. Karena kamar Laluna masih terkunci rapat dari luar. Utuh. Tak tersentuh. Pun atap, dinding, dan jendela, semuanya bergeming dan tampak baik-baik saja. Hanya saja, di kamar Laluna, Suster menemukan remah-remah mawar yang tak terhisab jumlahnya. Remah-remah mawar yang berserak menutupi lantai, seperti percikan darah yang terburai.***
Malang, April 2013

0 komentar: